Wayang Jadi Ruang Belajar Demokrasi, Bawaslu Kota Yogyakarta Gandeng Komunitas Seni
|
Bantul — Bawaslu Kota Yogyakarta menggandeng Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) Indonesia dalam kegiatan Konsolidasi Demokrasi yang digelar di Galeri Kahangnan, Pringgading, Guwosari, Pajangan, Bantul, Minggu (24/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi upaya memperkuat pendidikan demokrasi dan pengawasan partisipatif melalui pendekatan seni dan budaya.
Suasana kebudayaan terasa sejak awal kegiatan melalui workshop wayang suket yang difasilitasi Anggota Bawaslu Kota Yogyakarta, Jantan Putra Bangsa. Workshop tersebut diikuti komunitas seni, akademisi, pegiat budaya, hingga masyarakat umum.
Tak sekadar belajar membuat wayang dari rumput kering, peserta juga diajak memahami filosofi wayang suket yang sarat nilai kebersamaan, karakter, dan demokrasi. Antusiasme peserta terlihat saat mereka terlibat langsung dalam proses pembuatan wayang sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ruang belajar bersama.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pentas wayang kontemporer bertajuk “Satria Kuning Lena” yang dibawakan Dalang Ki Hangno Hartono. Pertunjukan tersebut menghadirkan pesan sosial dan kebangsaan yang dikemas secara kreatif sehingga nilai-nilai demokrasi terasa lebih dekat dan mudah dipahami masyarakat.
Melalui lakon yang dibawakan, pesan mengenai kepemimpinan, integritas, tanggung jawab, hingga pentingnya keterlibatan masyarakat dalam kehidupan demokrasi disampaikan secara reflektif dan menghibur. Pertunjukan tersebut juga mendapat antusiasme peserta yang mengikuti kegiatan hingga selesai.
Diskusi publik kemudian menjadi ruang memperdalam gagasan dengan menghadirkan filmmaker Yoga Bagus Satatagama dan aktivis politik Tri Heru Wardaya atau Heru Binjai. Diskusi dimoderatori akademisi Pamudji Raharja dan membahas pentingnya seni budaya sebagai instrumen pendidikan politik masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, peserta menilai pendekatan seni budaya lebih efektif dibanding metode sosialisasi yang terlalu formal karena terasa lebih dekat, cair, dan mudah dipahami lintas kalangan.
Anggota Bawaslu Kota Yogyakarta, Jantan Putra Bangsa, mengatakan seni dan budaya dapat menjadi jembatan penting dalam membangun kesadaran demokrasi masyarakat. “Pendekatan seni dan budaya bisa menjadi sarana pendidikan demokrasi yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memperkuat pengawasan partisipatif secara berkelanjutan. Kolaborasi dengan komunitas seni budaya penting untuk terus diperkuat agar pesan demokrasi dapat menjangkau publik secara lebih luas,” ujar Jantan.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kota Yogyakarta berharap pendidikan demokrasi dapat semakin dekat dengan masyarakat melalui pendekatan budaya yang partisipatif, inklusif, dan mudah dipahami berbagai kalangan.
Badan Pengawas Pemilihan Umum Kota Yogyakarta
Jl. Nyi Ageng Nis No. 544, Peleman, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta 55171
Penulis: Rifqi
Foto: Andoko
Editor: Winda