Bawaslu Kota Yogyakarta Hadiri Peluncuran Mata Takdir, Dorong Ruang Seni sebagai Medium Refleksi Publik
|
Sleman — Bawaslu Kota Yogyakarta menunjukkan dukungannya terhadap perkembangan literasi dan ruang-ruang kreatif dengan menghadiri kegiatan Syawalan Seniman 2026 yang dirangkaikan dengan peluncuran buku Mata Takdir karya penyair Rekki Zakkia di Kedai Kopi Kebun Makna, Sleman, Minggu (26/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya merawat ekosistem kebudayaan sekaligus membuka ruang refleksi yang lebih luas di tengah masyarakat.
Acara dibuka oleh peneliti asal Prancis, Elizabeth D. Inandiak, yang menekankan pentingnya menjaga kesinambungan budaya melalui karya sastra dan seni. Ia menyebut sastra bukan sekadar ekspresi artistik, tetapi juga medium pewarisan nilai dan cara masyarakat memahami realitas.
Peluncuran buku ini juga mencerminkan semangat kolaborasi lintas daerah dengan melibatkan seniman dari Magelang dan berbagai wilayah lain di Indonesia. Kebun Makna sebagai ruang budaya dinilai mampu menghadirkan suasana yang intim dan reflektif, sekaligus mempertemukan publik dengan karya-karya yang menggugah.
Rangkaian kegiatan berlangsung dari sore hingga tengah malam, diisi dengan pertunjukan seni dan diskusi yang menyentuh tema-tema eksistensial. KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dalam kesempatan tersebut mengulas relasi antara takdir dan kehidupan manusia. Ia menegaskan bahwa meskipun takdir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan, manusia tetap memiliki ruang untuk berikhtiar dan memberi makna atas setiap perjalanan hidupnya.
Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Yogyakarta, Jantan Putra Bangsa, menilai bahwa ruang-ruang seni seperti ini memiliki kontribusi penting dalam membangun kesadaran publik yang lebih kritis dan reflektif.
“Ruang seni dan literasi seperti ini bukan hanya tempat berekspresi, tetapi juga ruang pembelajaran publik. Di dalamnya tumbuh kepekaan, nalar kritis, dan kesadaran sosial yang pada akhirnya berkontribusi pada kualitas demokrasi,” ujar Jantan.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan Bawaslu dalam kegiatan kebudayaan merupakan bagian dari pendekatan yang lebih humanis dalam membangun budaya demokrasi.
“Demokrasi yang sehat tidak hanya dibangun melalui regulasi dan pengawasan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Sastra menjadi salah satu medium yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut secara lebih menyentuh,” tambahnya.
Melalui kegiatan Syawalan Seniman 2026 ini, peluncuran Mata Takdir tidak hanya menjadi momentum lahirnya karya baru, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan gagasan yang memperkaya perspektif tentang cinta, takdir, hingga kesehatan mental dalam kehidupan modern. Kehadiran Bawaslu Kota Yogyakarta pun menegaskan komitmen lembaga dalam mendukung ekosistem literasi sebagai bagian dari penguatan demokrasi yang lebih inklusif dan berbudaya.
Badan Pengawas Pemilihan Umum Kota Yogyakarta
Jl. Nyi Ageng Nis No. 544, Peleman, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta 55171
Penulis: Chatarina
Editor: Winda